MENA Newswire , JAKARTA : Sedikitnya 14 orang tewas dan empat lainnya masih hilang setelah banjir bandang melanda provinsi Sulawesi Utara, Indonesia , kata pihak berwenang pada hari Selasa. Banjir dipicu oleh hujan lebat di pulau Siau, bagian dari kabupaten Siau Tagulandang Biaro, di mana upaya penyelamatan berlanjut untuk hari kedua di tengah kondisi cuaca yang sulit. Banjir terjadi pada Senin pagi setelah hujan deras berkepanjangan yang menyebabkan beberapa sungai meluap, membanjiri daerah pemukiman dan memutus akses ke jalan-jalan utama. Gelombang air yang cepat menyapu rumah dan kendaraan, menyebabkan kerusakan meluas di beberapa desa di pulau itu. Tim tanggap bencana setempat melaporkan bahwa sebagian besar korban adalah penduduk yang terjebak dalam arus banjir yang tiba-tiba.

Juru bicara manajemen bencana regional, Nuriadin Gumeleng, membenarkan bahwa operasi penyelamatan sedang berlangsung, dengan 16 personel dikerahkan ke zona yang terdampak. Tim pencarian menggunakan perahu dan perlengkapan pelindung untuk menavigasi jalur air yang dipenuhi puing-puing saat mereka mencari orang hilang. Pihak berwenang juga melaporkan bahwa 18 orang mengalami cedera, mulai dari patah tulang hingga luka ringan, dan sedang menerima perawatan di fasilitas medis terdekat. Evakuasi dimulai tak lama setelah banjir, dengan ratusan warga pindah ke tempat yang lebih tinggi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana melaporkan bahwa setidaknya 444 orang telah dipindahkan ke tempat penampungan sementara yang didirikan di sekolah dan gereja setempat. Tim darurat mendistribusikan pasokan makanan, air bersih, dan selimut kepada para pengungsi sambil memastikan pemantauan terus menerus terhadap kondisi cuaca di wilayah tersebut.
Hujan lebat adalah hal biasa selama musim hujan di Indonesia , yang biasanya mencapai puncaknya antara Januari dan Februari. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika telah memperingatkan bahwa Sulawesi Utara, bersama dengan pulau Jawa, Maluku, dan Papua, diperkirakan akan mengalami peningkatan curah hujan dalam beberapa minggu mendatang. Badan tersebut mendesak pemerintah daerah untuk tetap siaga menghadapi potensi banjir bandang dan tanah longsor di daerah rawan. Kerusakan infrastruktur akibat banjir telah mengganggu jalur transportasi dan komunikasi di beberapa bagian Pulau Siau. Beberapa jembatan dan jalan akses dilaporkan runtuh atau terendam, sehingga mempersulit upaya penyelamatan dan bantuan. Pemerintah daerah berupaya memulihkan konektivitas ke desa-desa terpencil untuk mempercepat pengiriman bantuan dan evakuasi warga yang terdampak.
Ratusan orang mengungsi akibat hujan deras yang terus berlanjut.
Pejabat penanggulangan bencana nasional Indonesia telah memobilisasi pusat koordinasi di ibu kota provinsi Sulawesi Utara untuk mengawasi respons. Tim sedang melakukan penilaian cepat di zona yang terdampak untuk menentukan sepenuhnya kerusakan pada rumah, bangunan publik, dan lahan pertanian. Perkiraan awal menunjukkan kerugian signifikan pada pertanian lokal, dengan beberapa hektar tanaman hancur akibat banjir. Pemerintah Indonesia telah meningkatkan tingkat kesiapan di beberapa provinsi karena peringatan cuaca masih berlaku. Badan mitigasi bencana mengerahkan personel dan peralatan tambahan untuk mengantisipasi potensi keadaan darurat karena curah hujan terus berlanjut di beberapa wilayah. Meskipun kondisi di beberapa bagian Sulawesi Utara mulai stabil, pihak berwenang menekankan bahwa hujan lebat lebih lanjut dapat terjadi dalam beberapa hari mendatang, yang menimbulkan tantangan berkelanjutan bagi operasi pemulihan.
Banjir bandang dan tanah longsor merupakan bahaya yang berulang di seluruh kepulauan Indonesia yang luas, di mana deforestasi, curah hujan tinggi, dan pola pemukiman di sepanjang tepi sungai memperburuk risiko banjir. Medan pegunungan dan sistem sungai yang luas di negara ini membuatnya sangat rentan selama periode cuaca ekstrem. Instansi pemerintah telah menyerukan penguatan kapasitas manajemen bencana dan peningkatan sistem peringatan dini untuk mengurangi dampak di masa mendatang. Hingga Selasa pagi, tim penyelamat di Pulau Siau terus fokus pada pencarian warga yang hilang dan membersihkan jalur akses yang terhalang oleh lumpur dan puing-puing. Para pengungsi tetap ditempatkan di tempat penampungan sementara, dengan pejabat setempat mengoordinasikan dukungan bagi keluarga yang terkena dampak bencana. Layanan darurat diharapkan untuk terus beroperasi hingga semua orang yang hilang ditemukan dan air banjir benar-benar surut.
Musim hujan meningkatkan risiko banjir di seluruh Indonesia.
Badan penanggulangan bencana Indonesia kembali menyerukan warga di daerah rawan banjir untuk tetap waspada, terutama di daerah pesisir dan dataran rendah di mana curah hujan diperkirakan akan terus berlanjut. Stasiun pemantauan cuaca di seluruh Sulawesi memantau intensitas curah hujan dan ketinggian sungai secara cermat untuk memberikan informasi terkini kepada masyarakat. Pemerintah telah mendorong program kesiapsiagaan bencana berbasis masyarakat untuk membantu warga merespons dengan cepat terhadap peringatan banjir. Banjir bandang di Sulawesi Utara menandai salah satu bencana alam paling mematikan di kawasan ini sejak awal tahun, yang menggarisbawahi tantangan berkelanjutan yang dihadapi oleh pemerintah daerah dalam mengelola cuaca ekstrem musiman. Petugas tanggap darurat terus bekerja tanpa henti untuk menstabilkan situasi, memberikan bantuan, dan memastikan keselamatan warga yang mengungsi saat Indonesia menghadapi puncak musim hujan.
Artikel berjudul "Banjir bandang di Indonesia menewaskan 14 orang dan kehilangan empat orang" pertama kali muncul di Arabian Observer .
