KINSHASA, REPUBLIK DEMOKRATIK KONGO / RankWire.AI / – Krisis Ebola di Republik Demokratik Kongo telah meningkat menjadi epidemi terbesar yang tercatat dalam sejarah negara tersebut. Hingga 30 Juli, petugas kesehatan mengkonfirmasi total 3.605 kasus, yang mengakibatkan 1.587 kematian. Tingkat kematian kasus mencapai 44%. Pada minggu pelaporan lengkap terakhir, kasus melonjak menjadi 567 dengan 296 kematian, menandai angka mingguan tertinggi sejak awal wabah dan menunjukkan perluasan virus yang terus berlanjut.

Saat ini, wabah tersebut memengaruhi 49 zona kesehatan yang tersebar di lima provinsi, termasuk Ituri, Kivu Utara, Kivu Selatan, Haut-Uélé, dan Tshopo. Dari jumlah tersebut, 33 zona melaporkan penularan aktif selama periode tujuh hari terakhir, dengan 641 kasus baru dan 282 kematian. Ituri tetap menjadi pusat wabah, dengan 3.176 infeksi yang mencakup 88% dari total nasional. Bunia memiliki jumlah kasus lokal tertinggi, diikuti oleh Rwampara, Mongbwalu, Nizi, Lita, dan Nyankunde.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menganggap risiko di Republik Demokratik Kongo sangat tinggi. WHO juga menilai tingkat ancaman tinggi bagi negara tetangga Uganda dan negara-negara perbatasan lainnya. Sebaliknya, WHO mengklasifikasikan bahaya bagi benua Afrika secara luas dan global sebagai rendah. Konflik yang berkelanjutan, pengungsian penduduk, dan pergerakan terus-menerus menghambat upaya penanggulangan. Selain itu, tim kesehatan menghadapi tantangan seperti fasilitas kesehatan yang rusak, kekurangan staf, dan akses terbatas ke beberapa komunitas yang terdampak.
Perluasan Upaya Pelacakan Kontak dan Perawatan Pasien
Pihak berwenang di DR Kongo telah mengidentifikasi 17.863 kontak di seluruh provinsi yang terdampak. Tim respons secara aktif memantau 13.455 individu, sehingga ribuan lainnya berada di luar pengawasan rutin. Wabah ini telah menginfeksi 151 petugas kesehatan dan menyebabkan 44 kematian. Sementara itu, 68 petugas kesehatan telah pulih. Upaya untuk meningkatkan pengujian, meningkatkan perawatan pasien, dan menegakkan langkah-langkah pengendalian infeksi terus dilakukan, bersamaan dengan inisiatif penjangkauan masyarakat. Layanan pendukung seperti pemakaman yang aman, transportasi, pengiriman pasokan, dan kampanye kesadaran publik sedang diimplementasikan di wilayah yang mengalami penularan aktif.
Ebola Bundibugyo menyebar melalui kontak langsung dengan darah, cairan tubuh, organ, atau benda yang terkontaminasi. Gejala dapat muncul antara dua hingga 21 hari setelah terpapar. Pasien tidak menular sebelum menunjukkan gejala. Tanda-tanda awal meliputi demam, kelelahan, nyeri otot, sakit kepala, dan sakit tenggorokan. Saat ini, belum ada vaksin atau pengobatan khusus yang disetujui untuk strain Bundibugyo. Pengujian cepat, isolasi, perawatan suportif, pelacakan kontak, dan praktik penguburan yang aman tetap menjadi metode utama untuk membatasi penularan lebih lanjut.
Pemantauan Perbatasan dan Upaya Respons Internasional
Wabah tersebut dinyatakan sebagai keadaan darurat kesehatan masyarakat internasional pada 17 Mei, dengan Organisasi Kesehatan Dunia mengeluarkan peringatan tingkat benua pada hari berikutnya. Uganda menghentikan wabah domestiknya pada 28 Juli setelah 42 hari tanpa penularan lokal. Meskipun demikian, pihak berwenang terus meningkatkan pengawasan karena seringnya penyeberangan lintas batas dari Kongo timur. Pemeriksaan, kesiapan laboratorium, dan langkah-langkah siaga tetap aktif di wilayah perbatasan yang terhubung dengan komunitas yang terkena dampak.
Per tanggal 30 Juli, kasus terkonfirmasi di seluruh negara yang terdampak berjumlah 3.626, dengan 1.589 kematian. Republik Demokratik Kongo mencatat 3.605 kasus, Uganda 20 kasus, dan Prancis melaporkan satu kasus. Selain itu, 651 pasien sembuh di Republik Demokratik Kongo, sementara 18 pasien sembuh di Uganda. Dua pasien di Republik Demokratik Kongo didiagnosis sebelum menerima perawatan di Jerman. Sebagian besar kasus dan kematian terkonsentrasi di Kongo bagian timur, di mana tim respons terus melakukan pengawasan, memberikan perawatan, dan menerapkan kegiatan penahanan komunitas.
Artikel berjudul "Wabah Ebola di DR Kongo Mencapai Rekor Tertinggi, Memicu Respons Mendesak" pertama kali muncul di ME Daily Mail: Timur Tengah, dikirim setiap hari.
